Bentang 50 menjurus bintang, tiada lautan banyak daratan
Dipisahkan akal dan akhlak yang mendewakan kertas disepuh angka nol dan sekian
Lagu yang mereka dendangkan me-nina bobo’kan penghuni seberang
Telanjang, terlelap tanpa tahu arti aral hendak mengekang
Di negeri itu banyak “pahlawan” ,
Pahlawan yang tamak, memenangkan perang bak seekor singa “jantan”
Yang dipimpin anak keturunan kera dari teori evolusi, bukan keturunan Adam
Sungguh kami semua yang terlalu bodoh untuk diperdaya oleh “Tuhan Mereka”
Daratan kami pun tercemar, bahkan bukan hanya kami
Negeri-negeri dimana orang berperikan suci pun tergoyahkan
Pesona dan rayuan lebih gombal dari setan
Menutup mata keadilan yang kita semua tegakkan ....
(By cipz)
Itulah sebuah isi hati yang saya lukiskan dalam barisan puisi atas krisis ekonomi global yang terjadi di negeri orang tapi imbasnya hampir ke semua negara. Saya kadang sampai terheran-heran sama perilaku masyarakat kita yang (terlalu) mendewakan Dollar Amerika, ingin bukti ?
Waktu saya diajak teman saya melakukan penagihan ke toko-toko di Dusit Mangga Dua ada salah satu toko yang kami tagih ternyata salah satu uang (USD) tersebut ada yang terkena tinta atau ada bercak tinta yang nempel di uang tersebut dan teman saya pun langsung komplain ke toko tadi bahwa salah satu uang USDnya ada yang “cacat”. Rata-rata transaksi disana memang menggunakan kurs USD karena kebanyakan barang impor, tapi tidak semua produk yang dijual disana adalah produksi Amerika kan? Disana juga banyak produk buatan Korea dan China, lalu kenapa pembayaran harus selalu berpatokan dengan USD?
Langkah kerja sama bilateral currency swap arrangement (BCSA) antara negara Indonesia dan Pemerintah China senilai 100 miliar renminbi semoga membawa dampak postitif bagi kedua negara sekawasan ini terhadap kondisi perekonomian yang sekarang sedang dilanda krisis keuangan global dan mengurangi ketergantungan kita terhadap Dollar Amerika.

0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan kasih komentar Anda disini !!!