Senin, 23 Maret 2009

PERSAINGAN SATELIT IRAN-ISRAEL


Lewat siaran nasional stasiun televisinya, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad memberikan pengumuman dengan rasa bangga. “Penduduk Iran yang saya cintai. Putra-putra terbaikmu berhasil menempatkan satelitnya di luar angkasa. Mulai saat ini Iran menjadi negara yang berhasil membangun, meluncurkan dan mengendalikan satelit sendiri.”
Peluncuran itu Selasa (3/2), bertepatan demgan 30 tahun Revolusi Iran, sebuah revolusi yang mengubah haluan politik Iran dari sekutu Amerika Serikat (AS) menjadi negeri yang senantiasa dicurigai. Dengan peluncuran satelit ini, Iran kini masuk kedalam kelompok eksklusif, kelompok negara yang bisa merancang satelit sekaligus meluncurkannya. Delapan negara lain yang lebih dulu adalah Rusia, AS, Prancis, Jepang, China, Inggris, India, dan Israel.
Satelit itu diberi nama Omid, bermakna “harapan”. Para insinyur Iran mulai membangunnya sejak Februari 2006. pada Februari 2008, satelit memasuki masa uji coba. Satelit dengan berat hanya 27 kg itu diniatkan sebagai wahana komunikasi. Menurut janji Presiden Mahmoud Ahmadinejad, setalah meluncurnya Omid, akan menyusul satelit-satelit lain.
Bahkan dia sudah menggagas untuk mengirim astronot Iran ke luar angkasa dengan kendaraan buatan dalam negeri. Roket Safir (bermakna “utusan”) generasi baru sudah dirancang untuk mampu membawa satelit hingga ketinggian 600-900 km, jauh lebih tinggi ketimbang garis edar Omid sekarang, yaitu pada 245 km (terendah) dan 380 km (terjauh).
Secara teknologi satelit, peluncuran satelit Omid sebenarnya hal yang biasa. Namun bagi AS dan sekutunya, terutama Israel, kemampuan Iran menggotong satelit hingga luar angkasa menimbulkan kekhawatiran lain. Karena dengan mudah Iran mengganti muatan roket itu dari satelit menjadi peluru kendali. Paling tidak, ia bisa menjangkau jarak 2.500 km sehingga ibukota Israel pun bisa disasar. Ini jauh lebih canggih ketimbang roket Hamas yang paling banter terbang 40 km tanpa kemampuan membidik lokasi dengan tepat.
Dari segi pengalaman, Iran sebetulnya masih kalah jauh dibandingkan para pendahulunya di bidang satelit. Pada 1957, Uni Soviet sudah menempatkan Sputnik di luar angkasa. Setahun kemudian, AS menyusulnya.
Dengan keterlambatan yang sedemikian lama, seharusnya AS dan sekutunya tidak perlu terbengong-bengong. Apalagi buru-buru mengimbau Iran untuk menyetop pengembangan teknologi satelit. Kekhawatiran AS antara lain bisa dilihat pada headline koran New York Times edisi Selasa lalu yang menyatakan bahwa peluncuran satelit Iran merupakan tantangan diplomasi Presiden Barack Obama.
Dengan demikian, peluncuran satelit Iran ikut menghangatkan suasana di Timur Tengah yang memang sudah panas. Padahal, apa yang dilakukan Iran dengan meluncurkan Omid sebetulnya belum seberapa bila dibandingkan dengan yang sudah dilakukan Israel, yang sudah menluncurkan satelit karya sendiri sejak 1988.
Satelit terakhir milik Israel diluncurkan pada 21 Januari 2008, namanya Tecsar, dari pusat antariksa Satish Dahwan, milik India. Satelitnya dibuat Israel Aerospace Industri, BUMN di bawah Departemen Pertahanan. Adapun India menyediakan pesawat peluncurnya. Roket yang dipakai memiliki empat tingkat.
Peluncuran Tecsar membuat Iran sangat marah karena itu memang diniatkan untuk memata-matai Iran dan negara lain yang dianggap musuh, yakni Suriah dan Palestina. Untuk menjalankan misinya, Tecsar dilengkapi kamera supercanggih yang diklaim paling maju. Meski lintasan orbitnya di ketinggian 450-800 km, ia bisa menghasilkan resolusi sampai 10 cm melalui sistem radar gelombang X.
Dengan kemampuan sebesar ini, buku yang tengah dibaca Presiden Palestina Mahmoud Abbas pun bisa dibaca judulnya. Selain itu, berbeda dengan satelit di masa lalu, pemindaian Tecsar tidak terpengaruh cuaca. Siang, malam, berawan atau badai sekalipun matanya bisa tajam menyorot bumi. Tidak mengherankan bangunan-bangunan penting milik Hamas di jalur gaza dengan gampang diluluhlantakkan Israel.
Dengan adanya Tecsar, Israel kini memiliki sejumlah serial satelit. Sebelumnya ia sudah punya satelit mata-mata, yakni Ofeq, yang seri ketujuhnya diluncurkan pada 2007. Untuk observasi bumi, Israel memiliki Eros. Untuk komunikasi, ada Amos (sampai seri keempat). Dewasa ini yang tengah dikembangkan adalah satelit Venus, Tauvex, Opsat, dan Insat.
Dengan berbagai kelebihan itu, Israel dengan gampang mengawasi pergerakan pasukan negara-negara tetangganya. Entah itu Suriah, Arab Saudi, Mesir, atau Iran. Negara-negara itu ibarat sosok telanjang bagi tentara Israel.
Suriah sudah merasakan kehebatan satelit Israel. Pada September 2007, sebuah bangunan yang dicurigai Israel dan AS sebagai kawasan pengembangan senjata nuklir di gempur. Berdasar informasi yang dipadukan antara intelijen satelit dengan lapangan, Angkatan Udara Israel terbang dengan jarak ribuan kilometer dengan mengisi bahan bakar di antariksa Turki tanpa sepengetahuan Turki. Dalam hitungan detik, instalasi yang dibuat dengan susah payah itu hancur.
Israel pertama kali meluncurkan satelit pada 20 September 1988. langkah itu dinyatakan para pengamat strategi militer sebagai upaya mengurangi ketergantungannya kepada AS dalam hal intelijen. Satelit Ofek 1 itu diumumkan sebagai sarana mengumpulkan data energi matahari, medan magnetik bumi. Selama sebulan satelit itu beredar di angkasa, sebelum kemudian menghancurkan diri.
Semakin baru, Ofek semakin canggih. Ofek 5 yang diluncurkan pada Mei 2002 dari pangkalan Angkatan Udara Israel di Palmachim dilengkapi kamera yang mampu membuat dengan jelas objek di bumi dengan ukuran 80 cm. satelit mata-mata Israel terakhir, Ofek 7, yang diluncurkan pada Juni 2007 bisa merekan objek berukuran 40 cm. Dengan informasi dari Ofek 7, plus intelijen lapangan, Syekh Yasin yang baru pulang dari salat subuh langsung dihajar dengan rudal.
Sebagai satelit mata-mata, Ofek di tempatkan di jalur rendah, di kisaran 300-1000 km di atas bumi. Dengan orbit yang rendah, ada dua manfaat yang diperoleh. Untuk satu kali orbit mengelilingi bumi, ia hanya butuh waktu 1,5 jam sehingga kawasan negara tetangga seperti Iran, Palestina, Suriah, Lebanon, dan negara-negara Arab lain bisa dipantau minimal enam kali sehari. Pemindaian sebuah lokasi dapat lebih sering dilakukan. Manfaat lain, kameranya bisa merekam pergerakan di bumi dengan jauh lebih akurat.
Ada dua kesamaan antara Iran dan Israel mengapa mereka begitu berambisi mengembangkan teknologi luar angkasanya, yakni sama-sama memiliki perasaan terancam.
Israel yang senantiasa merasa terancam oleh negara tetangganya menganggap perlu mengembangkan teknologi satelit karena merasa suplai informasi dari AS tidak mencukupi. Tak ada jalan lain kecuali mengembangkan wahana antariksa dengan kemampuan sendiri.
Iran memiliki perasaan yang sama. Embargo AS merupakan faktor yang terutama membuat negeri para Mullah ini bersikeras mengupayakan kekuatan sendiri. Tak aneh bila Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad , bergurau. Setelah suksesnya peluncuran satelit, dia berkata, “Terima kasih kepada AS. Berkat embargonya, kami sekarang memiliki teknologi nuklir sendiri dan teknologi luar angkasa yang maju.”
Bila itu kita refleksikan ke negeri kita, harusnya Indonesia berpeluang untuk mengembangkan teknologi luar angkasa dengan jauh lebih maju. Dewasa ini Indonesia baru memiliki satelti Tubsat yang diluncurkan dari India pada 2007. sebagai negeri yang relatif tidak punya musuh, kesempatan Indonesia untuk mengembangkan teknologi luar angkasa terbuka luas.
(Oleh Iwan Qodar Hinaan, Praktisi Pemetaan Pengurus Pusat Ikatan Surveyor Indonesia, dalam Opini Koran Seputar Indonesia, Jumat 6 Februari 2009)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan kasih komentar Anda disini !!!